Dinding Artistik dengan Bata Botol Bekas Sebagai Material Konstruksi Ramah Lingkungan

Di masa depan, konsep “ green Living “ pada konstruksi diyakini memiliki banyak keuntungan. Presiden American Concrete Institute (ACI) Indonesia mengatakan, konsep ini memungkinkan untuk menggunakan material limbah. Dengan demikian biaya yang di hemat cukup banyak.

Dengan menggunakan bahan-bahan bekas, secara otomatis anggaran menjadi lebih murah. Prinsip ramah lingkungan dalam konstruksi adalah menggunakan bahan-bahan seperlunya, dengan memperhatikan kontribusi bahan tersebut terhadap pencemaran lingkungan.

Salah satu penggunaan limbah yang dapat digunakan sebagai kontruksi bangunan adalah limbah botol minuman. Botol bekas minuman ini dapat dihunakan sebagai bahan konstruksi bengunan pengganti bata. Dengan menggunakan botol bekas ini tidak hanya melihat sisi ekonomis, nnamun juga sekaligus ikut membantu mengurangi jumlah sampah. Apalagi sampah botol termasuk sampah yang paling sulit terurai di tanah.

Berikut beberapa kelebihan rumah dengan botol bekas :

1.Hemat anggaran

Material bata sebagai bahan konstruksi bangunan dianggap cukup mahal. Sehingga dapat diganti dengan limbah botol yang lebih murah.

2.Tidak gampang rapuh

Orang Indonesia lazim menggunakan bata sebagai material dinding rumah. Bata yang terbuat dari tanah tentu saja gampang rapuh. Coba bandingkan dengan botol yang terbuat dari kaca akan membuatnya lebih tahan lama.

3.Bioklimatis

Arsitektur rumah botol termasuk bioklimatis. Artinya, desain rumah ini mampu menjaga suhu dalam ruangan tetap sejuk. Botol tersebut juga dapat menyerap radiasi sinar matahari dan meradiasikannya kembali ke atmosfer pada malam hari, sehingga tidak perlu menggunakan AC sebagai pendingin ruangan. Hal ini juga dapat mengurangi sedikit pemanasan global.

 

(Gambar Rumah dinding botol, Ridwan Kamil.)

4.Konstruksi hijau

Tidak bisa dipungkiri lagi, rumah botol plastik tergolong ramah lingkungan. Tidak seperti bata yang harus dibakar saat proses pembuatannya, serta membutuhkan banyak kayu bakar. Hal ini akan berdampak pada penebangan hutan. Sedangkan limbah botol minuman tidak demikian, bahkan dapat mengurangi volume sampah di bumi.

Salah satu penggunaan sampah botol sebagai material bangunan adalah rumah milik arsitek muda Indonesia, Ridwan Kamil. Terletak di kota berhawa sejuk, Bandung. Rumah ini dibangun dengan mengguanakan 30.000 botol kaca bekas minuman energi. Selain memadukan rancangan rumah botol dengan kayu, rumah ini juga menggabungkan susunan botol dengan glass block dibeberapa bagian dinding ruangan.

(Penggunaan glass block pada bagian dinding ruangan.)

Guna meminimalkan penggunaan cat dibagian luar bangunan, sang arsitek juga membiarkan beberapa bagian beton terekspos dan menampilkan warna natural betonnya. Selain ramah lingkungan, rumah ini layak diberi label green living. Bukan hanya karena dibangun dari botol kaca, melainkan juga karena sifat kaca yang tembus pandang sehingga memungkinkan cahaya matahari masuk pada siang hari membuat bangunan ini mampu menghemat penggunaan cahaya lampu pada siang hari.

(Dinding dari botol kaca dapat meminimalisir penggunaan listrik di siang hari.)

Sumber : www.beritalingkungan.com

Powered by WordPress | Designed by: photography charlottesville va | Thanks to ppc software, penny auction and larry goins